PERITEL TIDAK SANGGUP UNTUK MEMBAYAR UPAH TINGGI

PERITEL TIDAK SANGGUP UNTUK MEMBAYAR UPAH TINGGI

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) meminta kepada pemerintah untuk mengurangi besaran kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) maupun Upah Minumum Regional (UMR) 2018. Alasannya, industri ritel saat ini tengah lesu yang ditunjukkan dengan maraknya penutupan gerai took ritel modern.

Ketua Umum Aprindo, Roy Nicolas menilai kenaikan UMP sebesar 8,71% oleh pemerintah sangat berat bagi industri ritel sekarang ini. Apalagi nantinya diikuti dengan penyesuaian UMR di masing – masing daerah. Pada prinsipnya kami akan mengikuti kenaikan UMP, kami tidak minta penangguhan. Tapi kami minta pemerintah pusat dan daerah member perhatian kepada sector yang sedang tergerusini.

Hanya saja, Roy meminta kepada pemerintah pusat dan daerah intensif khusus bagi perusahaan ritel, berupa pengurangan dari besaran kenaikan upah tersebut. Artinya tetap naik, namun tidak setinggi yang ditetapkan pemerintah. Kalau sektornya maju, kenaikan sebesar itu tidak masalah. Tapi sketor ini sedang redup. Kami minta pemerintah mengerti, beri insentif misalnya pengurangan dari kenaikan itu, khusus di ritel.

Saat ini dia mengaku, pelaku usaha ritel belum mengusulkan kepada pemerintah besaran kenaikan upah yang sanggup dibayar pengusaha ritel. Belum dibicarakan dengan pemerintah. Roy menceritakan kinerja industry modern tercatat berada di bawah atau kurang menggairahkan dalam 2.5 tahunini. Data terakhirnya menunjukkan, pertumbuhan industry ritel pada semester I-2017 sebesar 3,7% atau lebih rendah dibanding periode tahun lalu di kisaran 5-6%.

Dengan capaian tersebut, dia memperkirakan pertumbuhan industry ritel tahun ini hanya akan mencapai 7% atau turun disbanding tahun lalu sebesar 9%. Kondisi ini berbeda dengan pertumbuhan di 2012-2013 yang menembus 14-15%.Ini menggambarkan ritel masih tumbuh tapi melambat. Dengan pertumbuhan 7%, kontribusi kita sebesar Rp210 triliun ke PDB. Tahun lalu saja sekitar Rp200 triliun.

Roy menerangkan, factor penyebab utama bisnis ritel modern kembang kempis selama 2.5 tahun lebih karena perubahan perilaku konsumen. Saat ini dengan perkembangan internet atau pun era digitalisasi,  belanja tidak lagi menjadi kebutuhan pokok selain makan dan minum. Konsumen bertambah, tapi porsi belanjanya makin kecil. Dulu orang belanja sampai stock untuk sebulan, tapi sekrang belanja secukupnya saja. Kalau kehabisan beras atau lainnya, tinggal diantar ojek online. Jadi segalanya dimudahkan membuat belanja bukan hal yang utama lagi.

Sumber: liputan6.com

   ,07 Desember 2017

Muhammat Bayu Aji Wibowo_109

Ayo Bagikan!Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

Related Search

author
No Response

Leave a reply "PERITEL TIDAK SANGGUP UNTUK MEMBAYAR UPAH TINGGI"