Mobil Listrik : Tren Dunia Makin Nyata

Sejumlah negara telah memutuskan untuk mengakhiri era mobil konvensional (mesin bensin dan diesel). Sementara pabrikan otomotif dunia telah berlomba-lomba mengembangkan mobil jenis ini. Pada saat yang sama, konsumen pun antusias menyambutnya. Tren mobil listrik tampak semakin nyata.

Baru-baru ini, Inggris secara jelas tegas telah memutuskan untuk melarang penjualan mobil berbahan bakar bensin maupun diesel mulai 2040, sebagai upaya untuk mengurangi polusi udara. Ini adalah sinyal berakhirnya berakhirnya satu abad ketergantungan pada teknologi mesin pembakaran dalam.

Inggris tidak sendiri. Prancis terlebih dulu mengambil keputusan itu. Wali Kota Paris, Madrid, Mexico City, dan Athena pun telah mengatakan rencana untuk melarang kendaraan diesel dari pusat kota pada 2025.

Larangan bagi kendaraan konvensional itu adalah kemenangan mobil listrik. Keputusan itu juga akan berdampak buruk pada kekayaan produsen minyak, mengeser pekerjaan industri mobil, dan mengubah salah satu ikon kapitalisme abad ke-20: mobil itu sendiri.

Pemerintah Inggris memang mendapat tekanan untuk mengambil langkah-langkah mengurangi polusi udara. Perdana Menteri Theresa May dari Partai Konservatif itu telah berjanji untuk membuat hampir setiap mobil dan van di negerinya tanpa emisi pada 2050.

“Seharusnya tidak ada kendaraan diesel atau bensin baru pada 2040,” kata Menteri Lingkungan Hidup Michael Gove kepada Radio BBC. Larangan itu hanya berlaku untuk kendaraan konvensional dan bukan hibrida yang memiliki sumber tenaga listrik dan mesin pembakaran.

Akan tetapi, mobil listrik belum di jalan lempang. Masih ada gunung yang harus didaki.

Saat ini, populasi mobil listrik tidak lebih dari 5% dari total pendaftaran mobil baru di Inggris. Ada kekhawatiran para driver tentang biaya dan terbatasnya titik pengisian (charge). Sementara itu produsen masih ketar-ketir dengan investasi besar sebelum ada permintaan pasar yang nyata.

“Kami bisa merusak sektor otomotif yang sukses di Inggris jika kita tidak memberi cukup waktu agar industri menyesuaikan,” kata Mike Hawes, Chief Executive Society of Motor Manufacturers and Traders, seperti dikutip Reuters.

Di Inggris, saat ini hanya ada 12.000 titik pengisian umum listrik. Pengembangan infrastruktur energi baru dibutuhkan, termasuk memastikan ketersediaan jaringan listrik yang bisa memenuhi kebutuhan sejumlah besar pengguna mobil untuk mengisian ulang baterai secara bersamaan.

Di saat tidak sedikit produsen mobil merasa kesulitan menghadapi akhir masa dari teknologi mesin pembakaran, beberapa pabrikan telah mempercayai masa depan kendaraan listrik, atau bahkan kendaraan tanpa sopir.

 

Bulan ini, Volvo menjadi produsen mobil pertama yang menetapkan tanggal penghentian kendaraan yang hanya digerakkan oleh mesin pembakaran internal. Volvo mengatakan semua model mobilnya yang diluncurkan setelah 2019 adalah listrik atau hibrida.

Renault-Nissan pada 2009 telah mengumumkan rencana untuk membenamkan dana 4 miliar euro untuk pengembangan mobil listrik

Sampai terbongkarnya kasus manipulasi tes emisi diesel yang dilakukan oleh Volkswagen (VW) pada 2015, sebagian besar produsen memang masih ragu-ragu berinvestasi pada mobil baterai. Pengakuan VW menjadi titik balik terhadap diesel, yang tanpanya pembuat mobil tidak akan berjuang memenuhi target CO2.

Sejak saat itu, para pabrikan pun memfokuskan kembali pemikiran, dan serangkaian komitmen baru bermunculan.

Tahun lalu, VW mengumumkan rencana ambisius untuk meluncurkan 30 model baru bertenaga baterai dengan proyeksi angka penjualan tahunan 2 juta—3 juta unit pada 2025 atau sebanyak 25% dari produksi kendaraannya.

“Meskipun mesin pembakaran modern masih akan relevan, setidaknya 20 tahun lagi, jelas masa depan akan dipimpin oleh mobil listrik,” kata Kepala Eksekutif VW Matthias Mueller.

Carlos Tavares, Bos PSA Group, yang di masa lalu merupakan pembela vokal teknologi diesel, pada Rabu (26/7) mengatakan perusahaannya siap memproduksi mobil listrik secara massal, asalkan ada permintaan konsumen dan dukungan pemerintah.

“Maraknya kendaraan listrik sangat bergantung pada subsidi dan dukungan pemerintah terhadap teknologi ini,” kata Tavares. PSA berencana meluncurkan model hibrida listrik dan plug-in baru mulai 2019.

Toyota, yang memelopori hibrida dan sejak lama menolak mobil hanya dengan baterai, belakangan mengubah strategi. Pada tahun lalu, pabrik Jepang ini mengumumkan rencana pengembangan mobil yang sepenuhnya bertenaga listrik.

Di Eropa, apa yang disebut mobil hijau memang mendapatkan benefit subsidi, potongan pajak, dan insentif lain. Sebaliknya, mobil dengan mesin pembakaran dalam menghadapi hukuman yang makin berat, termasuk pembatasan mengemudi dan parkir.

China, yang berjuang dengan tingkat polusi di kota-kota besar, juga mendorong pengembangan kendaraan plug-in.

Jerman, rumah pembuat mobil besar seperti VW, Daimler dan BMW, harus segera memulai penghentian bensin dan solar juga, kata Oliver Wittke, pakar transportasi Demokratl. Namun, sepertinya ada resistensi. Bagaimana pun ada lebih dari 600.000 pekerjaan yang terancam.

Di Amerika, Tesla Motors sukses meluncurkan mobil listrik terbarunya Model3. Pekan lalu, Chief Executive Officer Tesla Elon Musk secara resmi menyerahkan 30 unit Model3 kepada para pembeli pertamanya.

Pasar antusias menyambut mobil listrik itu. Setidaknya, Tesla telah mengantongi order lebih dari setengah juta unit M3. Bahkan, calon pembeli rela membayar uang jaminan sebesar US$ 1.000 untuk mobil tersebut, meski harus kemungkinan tidak akan menerima mobil mereka sampai akhir 2018.

Tesla Model3 yang memiliki kemampuan jarak tempuh 220 mil (350 km) sekali charge itu dipasarkan mulai US$35.000 atau setara Rp420 juta. Adapun mobil dengan kemampuan jelajah 310 mil (500 km) sekali charge akan dipasarkan seharga US$44.000.

Untuk memenuhi pesanan yang berjibun itu, Tesla berjanji akan menggenjot produksi hingga enam kali lipat dari kinerja 2016. Dengan kemampuan memproduksi dan menjual 500.000 mobil per tahun, Tesla akan melampuai penjualan merek lain, seperti BMW, Mercedes, atau Lexus di Amerika Serikat.

Sejauh ini Tesla telah mengeluarkan dana lebih dari US$2 miliar untuk peluncuran Model3. Sukses kali ini diproyeksikan membuat Tesla mendapat arus kas yang memungkinkan perusahaan tak perlu lagi mencari dana ke pasar modal.

Terlebih lagi, menjelang peluncuran M3, harga saham Tesla telah melonjak 54% sejak Januari. Bahkan, valuasi mahal Tesla sekarang ini telah melebihi saingan tradisionalnya, seperti General Motors Co dan Ford Motor Co.

Kini Tesla telah memasuki arena baru, memproduksi kendaraan massal pelanggan dengan harga beberapa ribu dolar lebih banyak dari harga rata-rata mobil atau truk konvensional di Amerika Serikat. Pabrikan lain pun dipastikan segera menyusul.

  1. Zulfikar Alfan N – 046

Sumber : Jakarta.bisnis.com

 

Ayo Bagikan!Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

Related Search

No Response

Leave a reply "Mobil Listrik : Tren Dunia Makin Nyata"