Bisnis Game dan Peluang Besar di Ranah Konsol

Industri game merupakan bagian dari industri kreatif yang menjadi kini menjadi pusat perhatian, baik oleh masyarakat dan pemerintah. Memang, di Indonesia, jumlah developer game pun terus bertambah. Tapi, kebanyakan developer tersebut lebih memilih untuk membuat game mobile. Lain halnya dengan Mintsphere, yang lebih memilih untuk fokus membuat game untuk PC dan konsol Sony PlayStation 4. Saat ditemui di Central Park, CEO Mintsphere, Wilson Tjandra menjelaskan bahwa awal mula studio yang dikawalnya fokus untuk membuat game PC dan konsol adalah karena kebetulan. “Semua developer mau membuat game mobile, tapi kita nggak mau main ke sana. Jadi, kami memutuskan untuk membuat game PC, kalau bisa buat untuk konsol, malah bag Ketika itu, Mintsphere masih membuat game menggunakan Flash. Meskipun game yang mereka buat belum jadi, Wilson bercerita, mereka nekad untuk memasukkannya dalam perlombaan Indie Prize dalam Casual Connect Asia pada 2014. Game berjudul “Trigger Princess” buatan Mintsphere berhasil menyabet juara sebagai “game dalam pengembangan yang paling menjanjikan.” Enam tahun sejak berdiri, Mintsphere kini memiliki 8 pekerja dengan 2 pekerja freelance. Ditemui bersama dengan Wilson, CMO Ta Ely mengatakan bahwa Mintsphere memang tidak ingin mempekerjakan terlalu banyak orang. “Kita maunya tetap kecil. Dengan sedikit orang, komunikasi akan lebih kekeluargaaan,” ujarnya. “Semakin mudah untuk mengaturnya. Selain itu, semakin besar sebuah perusahaan, walau pendapatan yang masuk menjadi lebih besar, begitu juga dengan arus pengeluaran.”

Apa tantangan terbesar dalam membuat game?
“Ketika kita mau buat game yang benar-benar wah, sembari waktu berjalan, teknologi juga berjalan terus. Itu yang buat kita keteteran,” katanya. Dia menjelaskan, terkadang, mereka telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membuat game dengan satu teknologi, muncul teknologi baru yang membuat teknologi yang mereka gunakan menjadi ketinggalan zaman. “Akhirnya, kita harus beralih ke teknologi baru.”

Apa menjadi developer game sudah cukup untuk menghidupi diri?
“Pasti bisalah!” ujarnya tegas ketika ditanya tentang apakah pekerjaan sebagai developer sudah cukup untuk menghidupi seseorang. “Saya 16 tahun saja hidup dari situ.” Dia mengaku, ketika mengambil jurusan desain visual di Universitas Bina Nusantara, orangtuanya sempat khawatir akan masa depannya. Namun, dia berkeras untuk membuktikan bahwa pandangan orangtuanya salah

15 november 2017

Metrronews.com_elang_143

Ayo Bagikan!Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

Related Search

author
No Response

Leave a reply "Bisnis Game dan Peluang Besar di Ranah Konsol"