Dakwah Sunan Kudus

No comment 330 views

Beliau adalah Sunan Kudus yang memiliki nama asli Syekh Ja’far Shodiq. Beliau pula yang menjadi salah satu dari anggota Wali Sanga sebagai penyebar agama Islam di tanha Jawa. Sosok Sunan Kudus begitu sentral di dalam kehidupan masyarakat Kudus dan sekitarnya. Kesentralan itu terwujud karena Sunan Kudus telah memberikan pondasi pengajaran keagamaan dan kebudayaan yang toleran.

Tak heran, jika hingga saat ini makam beliau yang berdekatan dengan Menara Kudus selalu ramai diziarahi oleh masyarakat dari berbagai penjuru negeri. Selain itu, hal tersebut sebagai bukti bahwa ajaran toleransi Sunan Kudus tak lekang oleh zaman dan justru semakin relevan ditengah arus radikalisme dan fundamentalisme beragama yang semakin marak dewasa ini.

Dalam perjalanan hidupnya, Sunan Kudus banyak berguru kepada Sunan Kalijaga. Cara berdakwahnya pun sama dengan pendeketan dakwah Sunan Kalijaga yang menekankan kearifan lokal dengan mengapresiasi terhadap budaya setempat.

Beberapa nilai toeransi yang diperlihatkan oleh Sunan Kudus terhadap pengikutnya yakni dengan melarang menyembelih sapi kepada para pengikutnya. Selain berdakwah lewat sapi, bentuk toleransi sekaligus akulturasi Sunan Kudus juga bisa dilihat pada pancuran atau padasan yang berjumlah delapan yang sekarang difungsikan sebagai tempat berwudlu. Tiap-tiap pancurannya dihiasi dengan relief arca sebagai ornamen penambah estetika. Jumlah delapan pada pancuran mengadopsi dari ajaran Budha yakni Asta Sanghika Marga atau Delapan Jalan Utama yang menjadi pegangan masyarakat saat itu dalam kehidupannya. Pola akulturasi budaya lokal Hindu-Budha dengan Islam juga bisa dilihat dari peninggalan Sunan Kudus bukanlah menara yang berasitektur bangunan Timur Tengah, melainkan lebih mirip dengan bangunan Candi Jago atau serupa juga dengan bangunan Pura di Bali.

Menara Kudus dulu dimanfaatkan oleh Sunan Kudus sebagai tempat bedug dan bedug dibunyikan bertalu-talu setiap awal ramadhan. Uniknya bunyi bedug tersebut mampu menarik masyarakat Kudus berkumpul disekitar menara Kudus untuk mendengarkan pengumumn Sunan Kudus tentang tanggal awal bulan puasa ramadhan. Bedug digunakan oleh Sunan Kudus untuk menarik jamaah melaksanakan ibadah. Walaupun bedug bukan ajaran dan warisan islam, tetapi oleh ulama dijadikan media dakwah pada masa itu. Kini, menara masjid tertua di wilayah Jawa tersebut dijadikan sebagai landmark Kabupaten Kudus.

Strategi (akulturasi) dakwah Sunan Kudus adalah suatu hal yang melampaui zamannya. Melampaui zaman karena dakwah mengusung nilai-nilai akulturasi saat itu belumlah ramai dipraktikan oleh penyebar Islam di Indonesia pada umumnya.

Kini, toleransi beragama berada di titik nadir. Ironisnya, toleransi beragama tak cuma menjadi barang mahal tetapi sudah terlalu langka. Dengan jalan menghidupkan kembali esensi serta spirit dakwah Sunan Kudus, kiranya masyarakat muslim bisa mengembalikan lagi wajah Islam yang ramah dan toleran setelah sebelmnya dihinggapi oleh stigma negatif. Ajaran toleransi Ala Sunan Kudus.

Ayo Bagikan!Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

Related Search

author
No Response

Leave a reply "Dakwah Sunan Kudus"