Tradisi Sambut Tahun Baru di Jepang

Mahasiswa.me – Jepang. Perayaan tahun baru yang ada di Jepang sangatlah berbeda dengan negara – negara yang ada di bagian Barat. Tanggal 25 Desember sebagai hari natal oleh warga Jepang dianggap hanya sebagai hari liburan yang menyenangkan tanpa sebuah tradisi.

Sedangkan liburan musim dingin tradisional masyarakat Jepang disebut dengan “ Oshogatsu “ yang secara harfiah berarti bulan pertama atau tahun baru. Perayaan tahun baru di Jepang tidak hanya sampai tanggal 1 Januari tapi bagi masyarakat Jepang perayaan itu sampai tanggal 3 Januari.

Di Jepang perayaan tahun baru dirayakan dengan tenang, serius, dan tidak ditandai dengan kembang api, dan bahkan orang Jepang akan pulang ke kampung untuk berkumpul bersama keluarga merayakan tradisi mereka walaupun dalam keadaan sesibuk apapun karena orang yang bekerja akan mendapatkan hari libur yang disebut ‘ nenmatsu nenshi”.

Acara yan pertama dalam menyambut tahun baru yaitu dengan memasang dekorasi keberuntungnan yaitu Kadomatsu dan Shimekazari yang dipasang untuk menghiasi toko – toko, hotel, dan perusahaan. Selain itu juga dipasang sebagai hiasan di dalam rumah. Tujuan dipasang keduannya yaitu untuk menggundang dan menyambut dewa keberuntungan serta menangkal roh jahat.

Selain itu setiap rumah juga melakukan persembahan untuk para dewa yang disebut kagami mochi, yaitu dua buah kue beras berbentuk bulat ditumpuk dan bagian atasnya ditambahi dengan buah jeruk kue ini disebut kue mochi yang ditempatkan di altar Shinto rumah mereka. Benda yang membawa keuntungan yang lain yaitu hagoita yang berfungsi untuk mengusir dan menangkal sial dan juga hamaya yaitu sebuah panah yang digunakan untuk mengusir roh jahat.

Makanan yang akan disajikan dalam menyambut tahun baru yaitu Soba Toshikoshi yang secara harfiah memiliki arti mie soba sebrang tahun, hidangan ini dipercaya sebagai pembawa keberuntungan. Soba ini dihidangkan dalam keadaan panas yang memiliki lambang sebagai pembuang sial. Mie soba ini dibuat dari buckwheat yang dibentuk tipis ini akan membantu meringankan beban. Mie yang panjang ini melabangkan dapat membri umur panjang dan akan mendapatkan kesialan apabila mie sobanya tidak dihabiskan.

Setelah makan soba, di kuil akan dibunyikan lonceng sebanyak 108 kali, ini dilakukan beberapa menit sebelum tahun baru, ritual ini disebut Joya No Kane. Dalam ajaran Budha, angka 108 dianggap sebagai jumlah hasrat duniawi yang membawa manusia ke penderitaan. Memukul lonceng sebanyak 108 kali di berbagai kuil – kuil Budha yang ada di Jepang ini dipercaya merupakan cara untuk melepaskan diri dari dosa – dosa untuk menyiapkan diri memasuki tahun baru.

Sumber : Okezone.com ( B – 3 )

 

Ayo Bagikan!Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

Related Search

No Response

Leave a reply "Tradisi Sambut Tahun Baru di Jepang"